Thursday, 14 April 2011

Artikel Kemuhammadiyahan Kelas XI Semester 3 Bab XVI (1)

Pengin Artikel di bawah ini? Silahkan klik: Download, dijamin pasti Free Download. Semoga bermanfaat bagi Anda. Salam JePe PASTI BISA Anda Pasti Bisa.


KEMUHAMMMADIYAHAN
Kelas XI Semester 3



BAB  XVI (1)
MUHAMMADIYAH DARI MASA KE MASA

A.   Muhammadiyah Periode Sebelum Kemerdekaan (Masa Penjajahan Belanda) Tahun 1912 - 1942
Sejak didirikan K.H. Ahmad Dahlan tahun 1912, Muhammadiyah telah melewati berbagai peristiwa sejarah, seperti pemilu tahun 1955 yang banyak diwarnai partai-partai Islam. Keberadaan partai Masumi, didukung oleh organisasi-organisai Islam termasuk Muhammadiyah. Tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti Ki Bagus Hadi Kusuma, Buya HAMKA, K.H. Faqih Usman, Prof. K.H. Kahar Muzakkir, K.H. Hasan Basri aktif falam Masyumi. Peristiwa tersebut salah satu potret perjalanan Muhammadiyah pada masa awal setelah kemerdekaan.
Berdirinya Muhammadiyah diawalai dengan pendirian sekolah oleh K.H. Ahmad Dahlan yang mengajarkan agama Islam dan pengetahuan biasa. Lalu ada organisasi pendukungnya yang dibantu oleh para pengurus Budi Utomo cabang Yogyakarta. Nama organisasi yang dipilih adalah “Muhammadiyah”.
Untuk menyusun AAnggaran Dasar Muhammadiyah banyak mendapat bantuan daro R. Sosrosugondo guru Bahasa Melayu Kweekschool Budi Utomo, rumusannya dibuat dalam bahasa Belanda dan Melayu. Kesepakatan bulat pendirian Muhammadiyah tanggal 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330 H). Proses permintaan pengakuan kepada pemerintah sebagai badan hukum diusahakan oleh Budi Utomo cabang Yogyakarta.
Pada tanggal 20 Desember 1912 diajukan surat permohonan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Surat tersebut berisi agar persyarikatan mempunyai izin resmi dan diakui sebagai badan hukum dengan wilayah se-Jawa – Madura. Surat tersebut juga dilampiri rancangan statuen atau anggaran dasarnya. Namun, pemerintah Hindia Belanda sangat berhati-hati menanggapinya. Oleh karena itu, Gubernur Jenderal lalu mengirim surat permintaan pertimbangan kepada empat pejabat: Direktur Van Justite, Adviseur Voor Indlandsche Zaken, Residen Yogyakarta dan Sri Sultan Hamengkubuwono VI.
Surat untuk Sri Sultan dari Residen Yogkarta diteruskan kepada Rijksbestuurder (Pepatih Dalem Sri Sultan). Oleh karena surat tersebut mengenai urusan agama maka diteruskan kepada Hoofd Penghulu, waktu itu Penghulu dijabat H. Muhammad Khalil Kamaludiningrat.
Residen Yogyakarta Liefrinck pada 21 April 1913 menyurati Gubernur Jenderal bahwa Ia menyetujui permohonan Muhammadiyah. Namun dengan catatan kata “Jawa dan Madura” diganti dengan “Residentie Yogyakarta”, daerah kelahirannya.
Gubernur  Jenderal Idenburg meminta Hoodbestuur Muhammadiyah untuk mengubah kata-kata “Jawa dan Madura” menjadi Residentie Yogyakarta. Tertera dalam statuen artikel 2, 4 dan 7.

Hal ini dipenuhi setelah rapat anggota tanggal 15 Juni 1914. Demikianlah proses surat menyurat selama 20 bulan dengan pemerintah Hindia Belanda, akhirnya Muhammadiyah diakui sebagai badan hukum resmi. Tertuang dalam Gouvernement Besluit tanggal 22 Agustus 1914 No. 81 beserta lampiran statuennya.
Sejak resmi diakui itu, 4 pemimpin Muhammadiyah yang tampil menjadi pemimpin selama periode 1912 – 19142, sebagai berikut:
1.   Periode K.H. Ahmda Dahlan (1912 – 1923)
Merupakan masa perintisan, pembentukan jiwa dan amal usaha organisasi Muhammadiyah yang mendapat kedudukan terhormat pemerintah karena pergerakan Islam yang modern.
2.   Periode K.H. Ibrahim (1923 – 1932)
K.H. Ibrahim adalah adik Nyai Walidah/Nyai Ahmad Dahlan. Beliau adalah adik ipar K.H. Ahmad Dahlan, merupakan ulama pondok pesantren tidak pernah mengenyam pendidikan model barat. Pada masa ini Muhammadiyah makin berkembang dan meluas hingga luar Jawa. Lalu terbentuk Majelis Tarjih, mengadakan penelitian pengembangan hukum-hukum agama. Para pemuda mendapat bentuk organisasi yang nyata. Beridiri Nasyiyatul Aisyiyah dan Pemuda Muhammadiyah.
3.   Periode K.H. Hisyam (1932 – 1936)
Bidang pendidikan mendapat perhatian yang besar. Diadakan juga penertiban dan pemantaban administrasi organisasi, jadi Muhammadiyah lebih kuat dan lincah.
4.   Periode K.H. Mas Mansur (1936 – 1942)
Pengukuhan kembali hidup beragama dan penegasan paham agama dalam Muhammadiyah. Wujudnya pengaktifan Majelis Tarjih yang mampu merumuskan “Masalah Lima” mengenai dunia, agama, qiyas, sabilillah dan ibadah. Dan disusun pula “Langkah Dua Belas”:
a.     Memperdalam masuknya Iman.
b.     Memperbuahkan paham agama.
c.     Memperbuahkan budi pekerti.
d.     Menuntun amal intiqad.
e.     Menguatkan persatuan.
f.        Menegakkan keadilan.
g.     Melakukan kebijaksanaan.
h.      Menguatkan Majelis Tanwir.
i.         Mengadakan konferensi bagian.
j.         Mempermusyawaratkan putusan.
k.      Mengawasi gerakan jalan.
l.         Mempersambungkan gerakan luar.

B.    Muhammadiyah Periode Sebelum Kemerdekaan (Masa Penjajahan Jepang) Tahun 1942 - 1945
Jepang memberi ruang gerak yang sempit terhadap Muhammadiyah. Ki Bagus Hadikusumo mampu mempertahankan misi pergerakan Muhammadiyah. Periodenya tahun 1942 – 1953, kondisi politik masih masa transisi Belanda ke Jepang.
Tahun 1944 Muhammadiyah mengadakan Muktamar  darurat di Yogyakarta. Di masa pendudukan Jepang yang Fasis, Ki Bagus Hadikusumo selain memimpin Muhammadiyah juga digunakan untuk memikirkan nasib bangsa.


Beliau dengan gigih menentang instruksi “Sei Kerei” dari Jepang. Sei Kerei adalah membungkukkan badan ke arah timur (Negeri Jepang) menghormati Dewa Matahari, sebagai “Dewa penitis para Kaisar Jepang”. Upacara ini wajib dilakukan para siswa setiap pagi.
Selaku Ketua PP Muhammadiyah, terpanggil menyelamatkan generasi Muslim Indonesia dari syirik itu.
Melalui debat yang seru dengan Pemerintah Jepang,  akhirnya pemerintah Jepang memberikan dispensasi. Khusus bagi semua sekolah Muhammadiyah untuk tidak melakukan
upacara Sei Kerei. Ki Bagus Hadikusumo juga tercatat sebagai anggota Chuo Sangiin (Dewan Penasehat Pusat) buatan Jepang.

C.  Muhammadiyah Periode Kemerdekaan Sampai Orde Lama (1945 – 1968)
1.     Periode Ki Bagus Hadikusumo (1942 – 1953)
Di awal kemerdekaan NKRI, Muhammadiyah ikut aktif dalam perjuangan. Terjun dalam kancah revolusi di berbagai laskar kerakyatan hingga tahun 1953. Kegiatan-kegiatan keorganisasiannya antara lain:
a.     Tahun 1946 mengadakan silaturrahim cabang-cabang se-Jawa.
b.     Tahun 1950 mengadakah sidang Tanwir perwakilan.
c.     Tahun 1951 sidang Tanwir di Yogyakarta.
d.     Tahun 1952 mengadakah sidang Tanwir di Bandung
e.     Tahun 1953 mengadakah sidang Tanwir di Solo dengan keputusan Muhammadiyah hanya boleh memasuki partai yang berdasarkan Islam.
2.     Periode A. R. Sutan Mansyur (1952 – 1959)
A. R. Sutan Mansyur dipilih sebagai Ketua Muhammadiyah pada Muktamar Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto meskipun tidak termasuk Sembilan Terpliih. 9 terpilih itu adalah H.M.Yunus Anies, H.M. Farid Ma’ruf, Hamka, K.H. Ahmad Badawi, K.H. Fakih Usman, Kasman Singodimejo, DR. Syamsudin, A. Kahar Muzakir dan Muljadi Djojomartono.
            Masa ini “ruh Tauhid” ditanamkan kembali. Disusun langkah kurun waktu tertentu, yang pertama tahun 1956 – 1959 yang dikenal dengan nama Khittah Palembang.
3.     Periode H.M. Yunus Anies (1959 – 1962)
Negara Indonesia sedang dalam kegoncangan politik yang secara langsung dan tidak langsung mempengaruhi gerak perjuangan Muhammadiyah.
Tetapi Muhammadiyah mampu merumuskan Kepribadian Muhammadiyah yang menempatkan kembali kedudukan Muhammadiyah sebagai gerakan Dakwah Islam Amar Ma’ruf Nahi Munkar.
4.     Periode K.H. Ahmad Badawi (1962 – 1968)
K.H. Ahmad Badawi dipilih dalam Muktamar ke-35 di Jakarta tahun 1962. Muhammadiyah berjuang keras untuk mempertahankan eksistensinya agar tidak dibubarkan. Karena waktu itu politik dikuasai oleh PKI dan Bung Karno tahun 1965.
Pada saat itu seluruh barisan Orde Baru termasuk Muhammadiyah ikut tampil memberantas Komunis.

D.   Muhammadiyah Periode Orde Baru sampai Orde Reformasi
Periode ini merupakan rentang waktu 1968 – 2000, yang tampil sejumlah pemimpin karismatik. Ada 5 orang yang silih berganti memegang pucuk pimpinan Muhammadiyah:
1.      Periode K.H. Fakih Usman dan K.H. A.R. Fakhrudin (1968 – 1971)
K.H. Fakih Usman dipilih Ketua Muhammadiyah pada Muktamar ke-37 di Yogyakarta. Tidak lama kemudian meninggal, lalu diganti K.H. A.R. Fakhrudin (nama lengkapnya K.H. Abdul Razak Fakhrudin)

Usaha me-Muhammadiyahkan kembali Muhammadiyah. Usaha untuk mengadakan pembaruan (tajdid) dalam bidang ideologinya, dengan merumuskan “Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah”. Di bidang organisasi dan usaha perjuangan menyusun “Khittah Perjuangan dan Bidang-bidang lainnya”.
2.      Periode K.H. A.R. Fakhrudin (1971 – 1990)
Beliau dipilih sebagai Ketua Muhammadiyah ditetapkan dalam tanwir Ponorogo tahun 1969. Dalam Muktamar Muhammadiyah ke-38 di Ujung Pandang tahun 1971, muktamar ke-40 tahun 1978 di Surabaya dan ke-41 tahun 1985 di Surakarta.
Terjadi krisis yaitu keharusan untuk menjadikan Pancasila sebagai satu-satunya asas. Muhammadiyah mengatasi imbauan dari pemerintah tentang asas tunggal pancasila dengan mengadakan perubahan AD Muhammadiyah dengan menetapkan Pancasila sebagai asas organisasi.
Pada masa itu juga terjadi peristiwa penting adalah kunjungan Paus Yohanes Paulus II. Sebagai reaksi atas kunjungan itu beliau mengeluarkan buku ”Mangayubagya Sugeng Rawuh lan Sugeng Kondur”. Isinya adalah bahwa Indonesia adalah negara yang penduduknya sudah beragama Islam jadi jangan rakyat menjadi obyek Kristenisasi.
3.      Periode K.H. Ahmad Azhar Basyir, M.A. (1990 – 1995)
Didominasi oleh kaum intelektual produk Muhammadiyah. K.H. Ahmad Azhar Basyir, M.A. alumnus Universitas Al Azhar dan pakar dalam bidang hukum Islam. Pada muktamar Muhammadiyah ke-42 di Yogyakarta menjadi ketua PP Muhammadiyah.
Pada periode ini telah dirumuskan program jangka panjang 25 tahun, yang meliputi 3 hal: bidang konsolidasi gerakan, pengkajian dan pengembangan serta kemasyarakatan.
4.      Periode Prof. Dr. H.M. Amien Rais, M.A. dan Prof. Dr. H.A. Syafi’i Maarif, M.A. (1995 – 2000)
Tokoh reformasi Indonesia ini, lahir di Surakarta, 26 April 1944. Di Muhammadiyah sejak muktamar tahun 1985 di Surakarta yang menjabat sebagai ketua majelis tabligh Muhammadiyah. Dipilih menjadi wakil ketua PP Muhammadiyah pad Muktamar ke-42 tahun 1990 di Yogyakarta. Tahun 1994 dipilih menjadi Ketua hingga akhir periode 1990 – 1995. 1995 pada Muktamar ke-43 di Banda Aceh kembali menjadi Ketua PP Muhammadiyah periode 1995 – 2000.
Pada periode Prof. Dr. H.M. Amien Rais, M.A. telah dirumuskan program Muhammadiyah tahun 1995 – 2000, Rumusannya mengacu kepada masalah global, dunia Islam, nasional, Muhammadiyah, dan pengembangan pemikiran. Adapun pengembangan pemikiran terdiri atas pemikiran keagamaan, ilmu dan teknologi, basis ekonomi, gerakan social kemasyarakatan, dan PTM sebagai basis gerakan keilmuan atau pemikiran.
5.      Periode Prof. Dr. H.A. Syafi’i Maarif, M.A.
Hasil Muktamar ke-44 di Jakarta tahun 2000 Prof. Dr. H.A. Syafi’i Maarif, M.A. terplih menjadi ketua PP Muhammadiyah. Beliau seorang guru besar Ilmu Sejarah di IKIP Yogyakarta. Lahir di Sumpurkudus Sumatera Barat tanggal 31 Mei 1935.
Program kerja masa periode 2000 – 2005 secara garis besar adalah melanjutkan program Muhammadiyah sebelumnya, secara ringkas dirumuskan:
1.      Visi, Misi dan Usaha Muhammadiyah.
2.      Program Muhammadiyah yang meliputi Program Konsolidasi Gerakan dan Program Per Bidang.



E.     Muhammadiyah Paska Muktamar ke-45 di Malang 2005
Prof. Dr. Din Syamsudin terpilin sebagai ketua PP Muhammadiyah periode 2005 – 2010 pada Muktamar Muhammadiyah ke-45 di Malang tahun 2005 yang dilaksanakn 3 – 8 Juli 2005.
Dalam muktamar ini telah ditanfidzkan putusan-putusan, sebagai berikut:
1.   Menerima laporan PP Muhammadiyah masa jabatan 2000 – 2005.
2.   Pernyartaan pikiran Muhammadiyah jelang Satu Abad.
3.   Program persyarikatan periode 2005 – 2010.
4.   Perubahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga.
5.   Rekomendasi Anggaran Dasar Muhammadiyah.
Adapun program persyarikatan Muhammadiyah periode ini, sebagai berikut:
1.   Gambaran Umum Program
Merupakan penjabaran program jangka panjang untuk 5 tahun pertama masa berlakunya program jangka panjang. Sebagai program kerja 5 tahunan tahap I, program Nasional Muhammadiyah 2005 – 2010 menitikberatkan pada 3 hal utama: penguatan organisasi, pemantapan perencanaan dan pengembangan konsistensi serta kesungguhan jajaran persyarikatan untuk merealisasikan program kerja.
2.   Tujuan Program
Terbangunnya sistem organisasi yang dinamis, efektif dan efisien serta produktif sehingga dapat menguatkan Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.
3.   Prioritas
Urutan prioritas dirumuskan sebagai berikut:
a.     Penguatan organisasi di semua hal.
b.     Peningkatan kualitas lembaga dan amal usaha Muhammadiyah.
c.     Pengembangan tajdid di bidang tarjih dan pemikiran Islam.
d.     Peningkatan peran serta persyarikatan dalam penguatan masyarakat.
e.     Pengembangan kaderisasi.
f.        Peningkatan peran Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan negara serta percaturan global.
4.   Program Nasional di Berbagai Bidang
a.     Tarjih, Tajdid dan pemikiran Islam.
b.     Tabligh dan Kehidupan Islami.
c.     Pendidikan, Iptek dan Litbang.
d.     Kaderisasi.
e.     Kesehatan, kesejahteraan dan pemberdayaan Masyarakat.
f.        Wakaf, ZIS (Zakat, Infaq dan Shodaqah) dan Pemberdayaan Ekonomi.
g.     Partisipasi kehidupan berbangsa dan bernegara.
h.      Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan Hidup.
i.         Organisasi.
j.         Pustaka dan Informasi.
k.      Seni Budaya.
l.         Ukhuwah dan kerja sama
Tugas Kemuhammadiyahan Kelas XI Semester 3 Bab XVI (1) Free Download

Kerjakan soal-soal berikut ini dengan benar!


1. Bagaimana Ki bagus Hadikusuma berjuang untuk Muhammadiyah menentang Jepang?
2.  Bagaimana Muhammadiyah mengatasi imbauan dari pemerintah tentang asas tunggal pancasila?
3.   Apa yang dilakukan AR Fakhrudin terhadap kunjungan Paus ke Indonesia pada masa jabatannya?
4.    Program Muhammadiyah th 1995–2000 mengacu pada masalah apa saja?
5.     Apa saja hasil muktamar 45 di Malang?
 
Jawaban dari pertanyaan tersebut di atas, silahkan Anda kirim ke alamat E-Mail di bawah ini:
E-Mail: jkpurwoto@gmail.com

Wednesday, 13 April 2011

Assalaamu'alaikum Wr. Wb. 
Silahkan Anda Pilih apapun yang akan Anda Akses
di Web links di bawah ini:

1. http://tik.pdkjateng.go.id
2. http://bptikp-jateng.net
3. http://www.pdkjateng.go.id
4. http://www.smkmuh2klaten.sch.id
5. http://www.jepecom.blogspot.com
6. http://www.jepepastibisa.blogspot.com

Semoga bermanfaat bagi Anda. Terima kasih
Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
MP3 by JePe PASTI BISA


1. Arabian Songs Collections
2. MP3 New 
3. Sound Demo

Pengin download semua MP3 tersebut di atas? Silahkan Anda klik: Download, dijamin PASTI Free Download.


KEMUHAMMMADIYAHAN
Kelas X Semester 1



BAB  XVI (1)
ARTI KEMUHAMMADIYAHAN

A.     Pengertian Pendidikan Kemuhammadiyahan
Pendidikan Kemuhammadiyahan adalah salah satu mata pelajaran pokok di semua lembaga pendidikan Muhammadiyah. Dari pendidikan dasar, menengah, hingga perguruan tinggi di bawah persyarikatan Muhammadiyah.  Semua tingkatan pendidikan tersebut wajib melaksanakan pendidikan Kemuhammadiyahan. Saat ini secara normatif telah disusun rumusannya dalam bentuk bahan ajar Al Islam dan Kemuhammadiyahan.

B.      Maksud, Tujuan dan Ruang Lingkup Pendidikan Kemuhammadiyahan
1.   Maksud Pendidikan Kemuhammadiyahan
Maksud pendidikan Kemuhammadiyah adalah sebagai sarana untuk penyampaian pendidikan Muhammadiyah. Pentingnya pendidikan di masa depan menuntut Muhammadiyah untuk menjawab ketertinggalannya selama ini di bidang pendidikan. Salah satunya dengan melakukan penyempurnaan kurikulum Al Islam dan Kemuhammadiyahan.

2.   Tujuan Pendidikan Kemuhammadiyahan
Kemuhammadiyahan dijadikan pelajaran pokok dengan tujuan agar dapat diamati, dipahami dan dihayati oleh setiap peserta didik. Selain itu diharapkan agar kelak peserta didik bersedia dengan suka rela mengamalkan berbagai prinsip keyakinan dan cita-cita persyarikatan Muhammadiyah. Harapan tersebut sekiranya tidak berlebihan karena ada beberapa alasan antara lain sebagai berikut:
a.     Muhammadiyah memerlukan Penerus Keyakinan, Cita-Cita dan Amal Usahanya
Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang oleh masyarakat luas dikenal sebagai organisasi Islam yang bertaraf nasional. Muhammadiyah juga sebagai gerakan yang memiliki amal usaha begitu banyak dan beragam. Amal usaha Muhammadiyah meliputi bidang keagamaan, kemasyarakatan, kesehatan dan pendidikan. Muhammadiyah perlu menyadari sepenuhnya bahwa untuk meneruskan gerakan atau amal usaha tersebut mutlak diperlukan kader penerus. Persyarikatan ini membutuhkan kader penerus yang berkualitas dan penuh pengabdian. Selain itu memahami arah dan tujuan misi yang diemban oleh Muhammadiyah. Oleh karena itu, salah satu fungsi lembaga pendidikan Muhammadiyah adalah sebagai lembaga pembibitan kader.
Lembaga pendidkan Muhammadiyah juga berperan sebagai lembaga penyemai kader Muhammadiyah disamping kader umat dan kader bangsa. Mengingat peranan tersebut, maka peserta didik di lembaga-lembaga pendidikan Muhammadiyah senantiasa dikenalkan, dilatih serta diajak menghayati cita-cita agung Muhammadiyah. Adapun cita-citanya yaitu li i’laai kalimaatillaah, menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam serta demi tercapainya ‘Izzul Islaam Wal Muslimiin.

b.     Muhammadiyah perlu Dikenal oleh Angkatan Muda Muhammadiyah
Diajarkannya mata pelajaran Kemuhammadiyahan, sekurang-kurangnya angkatan muda Indonesia dapat mengenal apa Muhammadiyah. Terutama mereka yang memasuki jalur pendidikan formal di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Selain itu mengenal peranannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan adanya mata pelajaran tersebut generasi Muda Indonesia dapat mengetahui secara obyektif tentang persyarikatan Muhammadiyah. Bahwa persyarikatan tersebut merupakan sebuah gerakan Islam yang tersebar di Indonesia dan telah berjasa ikut serta membangun bangsa Indonesia. Muhammadiyah telah menyumbangkan andilnya kepada bangsa Indonesia dengan putera puteri terbaiknya ikut berjuang di kancah perjuangan kemerdekaan dan mengisinya hingga sekarang.

3.   Ruang Lingkup Pendidikan Kemuhammadiyahan
Ruang lingkup dari pendidikan Kemuhammadiyahan adalah segala hal yang berhubungan dengan persyarikatan Muhammadiyah. Di dalamnya memuat segala aspek tentang seluk beluk Muhammadiyah, yaitu aspek sejarah berdirinya, organisasi, perjuangan, amal usaha dan tokoh pemimpinnya. Semua dipelajari secara bulat, menyeluruh ddan integral tentang Muhammadiyah. Ada 3 metode pendekatan yang digunakan untuk mempelajari Muhammadiyah dalam pendidikan Kemuhammadiyahan, antara lain sebagai berikut:
a.     Pendekatan Historis
Aspek pertama yang digunakan dalam mempelajari Muhammadiyah melalui pendekatan historis/sejarah. Pendekatan ini berarti mempelajari latar belakang berdirinya, sejarah perkembangannya, berbagai amal usahanya dan hasil-hasil yang telah dicapai dan sekaligus mempelajari cirri-ciri khas yang melekat pada jati diri Muhammadiyah. Ciri tersebut yang membedakan dengan gerakan-gerakan lainnya yang tumbuh dan berkembang di Indonesia maupun yang ada di alam Islami (Dunia Islam).

b.     Pendekatan Ideologis
Aspek kedua adalah melalui pendekatan ideologis/dari segi keyakinan dan cita-citanya. Pendekatan ini yang paling penting sebab melalui keyakinan akan dikenal hakikat jati diri Muhammadiyah yang sebenar-benarnya. Dapat dikenal juga isi dan jiwa Muhamadiyah yang sesungguhnya, dikenal watak dan kepribadiannya. Dikenal dorongan-dorongan yang menggerakkan seluruh aktiivitas Muhammadiyah, dikenal juga apa yang menjadi pandangan/keyakinan hidupnya serta cita-cita perjuangannya.
Dalam pendekatan ini ada 3 materi yang harus dikaji dan dibahas secara mendalam, yaitu Kepribadian Muhammadiyah, Mukadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah dan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah.

c.     Pendekatan Struktural
Maksudnya adalah pendelatan dari segi susunan organisasinya. Mempelajari organisasi Muhammadiyah untuk mengetahui bagaimana Muhammadiyah melancarkan amal usahanya dengan system organisasi.



Bagaimana Muhammadiyah menyusun tenaga manusia yang ada di dalamnya mengatur tugas, cara-cara pengerahan dan pengarahan aktivitasnya. Jalinan hubungan dan usaha pengerahan serta fasilitas yang semuanya diatur secara rapi dan tertib sehingga gerakannya lincah, dinamis dan luwes. Sekaligus dengan pendekatan ini pula akan dikenal Khittah Perjuangan Muhammadiyah atau strategi dasar perjuangan Muhammadiyah.

C.    Janji Pelajar Muhammadiyah
Ada 6 janji pelajar Muhammadiyah yang harus dijunjung dan diamalkan. Adapun isi janji pelajar Muhammadiyah sebagai berikut:
Asyhadu An Laa Ilaaha illallaahu Wa Asyhadu Anna Muhammadan Rasuulullaahu
Kami Pelajar Muhammadiyah berjanji:
1.      Menegakkan dan Menjunjung Tinggi Perintah Agama Islam.
2.      Hormat dan Patuh Kepada Orang Tua dan Guru.
3.      Bersih Lahir, Batin dan Teguh Hati.
4.      Rajin Belajar dan Giat Bekerja serta Beramal.
5.      Berguna Bagi Masyarakat dan Negara.
6.      Sanggup Melangsungkan Amal Usaha Muhammadiyah.





Artikel Kemuhammadiyahan Kelas X Semester 1 Bab  XVII (2) Free Download


KEMUHAMMMADIYAHAN
Kelas X Semester 1



BAB  XVII (2)
PERKEMBANGAN DUNIA ISLAM

A.     Kejayaan Islam Abad VII – X di Bagdad dan Cordova
Kejayaan Islam Abad VII – X, ditandai kebesaran Dinasti Abbasyiyah dan Umaiyah Andalusia.
1.   Dinasti Abbasyiyah di Bagdad
Dinasti ini didirikan oleh Abdul Abbas As Saffah dari keturuan Abbas bin Abdul Muthalib. Kekuasaan dinasti ini berlangsung sekitar 5 abad/509 tahun dengan Bagdad sebagai pusat kekhalifahan.
Abu Jafar Al Mansur adalah khalifah yang mengawali pembangunan kota Bagdad sebagai pusat kekhalifahannya pada tahun 762 M. beliau merupkan khalifah Dinasti Abbasyiyah yang kedua. Al Mansur adalah tokoh yang dengan keras mendorong para cendekiawan untuk menyusun buku-buku ilmiah dan menterjemahkan buku-buku Yunani Kuno. Bagi siapapun yang berhasil menyalin buku-buku tersebut ke dalam Bahasa Arab maupun Bahasa Parsi, tanpa membedakan-bedakan latar belakangnya akan diberikan imbalan (royalty) yaitu berupa emas murni seberat timbangan buku hasil terjemahan mereka.
Perkembangan Dinasti Abbasyiyah mencapai puncaknya ketika kekuasaan dipegang oleh Harun Al Rasyid (786-809 M), seorang khalifah yang kemasyhuran dan kecemerlangannya dapat disejajarkan dengan Khalifah Umar bin Abdul Azis dari Dinasti Umaiyah. Dalam suasana semaraknya ilmu pengetahuan dunia Islam, lahirlah tokoh-tokoh cendekiawan muslim, antara lain:
a.     Al Kindi
b.     Ibnu Sina (Avicena)
c.     Abu Ali Al Hasan
d.     Muhammad Ibnu Musa Al Khawarismi
e.     Jabir Abu Musa Ibnu Haiyan
f.        Ibnu Bitar
g.     Al Biruni
h.      Al Fazari
i.        Al Mas’udi
j.        Maulana Jalaludin Ar Rumi
k.      Abu Hamid Muhammad Al Ghazali
l.        Rabi’ah Al Adawiyah




2.   Dinasti Umaiyah Andalusia di Cordova
Di Belahan Barat berdiri dengan megahnya Khalifah Umaiyah (757 – 1492 M) yang berpusat di Cordova Spanyol. Kekhalifahan diawali masuknya pasukan Islam pimpinan Thariq Ibnu Ziyyad tahun 711 M menaklukkan kerajaan Visighotic yang diperintah raja Roderick. Di bawah kekhalifahan Abdur Rahman II kekuasaan Islam Andakusia meluas dengan pemerintahan yang kuat.
Pemerintahan Andalusia oleh Khalifah Hakkam II Al Muntanshir (61 M) memberi perhatian besar terhadap ilmu pengetahuan. Khalifah ini mengeluarkan biaya besar untuk mendorong pertumbuhan ilmu pengetahuan. Cara yang dilakukannya antara lain membeli buku-buku ilmiah dari Bagdad. Kemudian Cordova mulai dikenal sebagai pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Banyak perpustakaan yang sarat dengan buku-buku yang mecakup segala bidang. Bukan hanya buku keagamaan, tetapi juga bukubuku umum seperti filsafat, ilmu falak, matematika, kedokteran, kebudayaan dan kesenian.
Pada masa Dinasti Umaiyah inilah lahirlah sekian banyak intelektual muslim yang sangat harum namanya. Diantaranya adalah Ibnu Bahjah, Ibnu Tufail dan ibnu Rusyd. Ibnu Rusyd (1126 – 1198 M) dikenal sebagai seorang dokter dengan karyanya yang terkenal di dunia barat “Colliget” atau “Kitabul Kulliyat”. Cendekian Muslim lainnya yang perlu dicermati adalah Ibnu Khaldun. Beliau lahir di Tunisia sekitar abad IX dan ahli di bidang sosiologi. Demikian pula nama Muhyiddin Ibnul Arabi, filosuf dan sufi yang agung dari Spanyol dan Al Iraqi.

B.      Kemunduran Islam Abad XI - XVIII
Masa-masa kejayaan Islam yang telah berjalan lama, akhirnya mengalami kemunduran juga. Firman Allah QS. Ali Imran [3] ayat 140 sangat tepat menggambarkan dunia Islam pada saat itu. Secara tegas dinyatakan bahwa kehidupan manusia, baik secara perorangan maupun secara kelompok pasti mengalami masa pasang surut. Ayat tersebut artinya:  “ Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'[231]. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

[231]     Syuhada' di sini ialah orang-orang Islam yang gugur di dalam peperangan untuk menegakkan agama Allah. sebagian ahli tafsir ada yang mengartikannya dengan menjadi saksi atas manusia sebagai tersebut dalam ayat 143 surat Al Baqarah.

Berbagai krisis yang melanda dunia Islam, gejala-gejalanya telah Nampak sejak abad XI M. Beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran dunia Islam antara lain sebagai berikut:
1.   Krisis Dalam Bidang Keagamaan
Krisis ini berpangkal dari pandangan sementara ulama jumud (konservatif) bahwa pintu ijtihad telah tertutup. Pendirian tersebut mengakibatkan lahirnya sikap memutlakkan pendapat-pendapat iman mujtahid.

2.   Krisis Bidang Sosial Politik
Memasuki abad XI, kemegahan dan kejayaan Daulah Islamiyah di Bagdad dan Cordova akhirnya mengalami titik balik juga. Dimulai dari pertikaian dalam memperebutkan kepemimpinan dan kekuasaan. Ayat-ayat Al Quran pada saat itu diusahakan sejauh mungkin ditafsirkan untuk membenarkan keberadaan para penguasa.
Dunia Islam di Timur yang diwakili Dinasti Abbasiyah mengalami invasi dari tentara Mongol setelah keadaannya lemah. Dinasti Umaiyah Andalusia di Cordova pun mengalami keruntuhan pula. Jatuh pada tahun 1236 M ke raja Ferdinand III dari Castilia. Granada kota yang tersisa di tangan Daulah Islamiyah Andalusia jatuh ke tangan Ferdinand dari aragan yang beraliansi dengan ratu Isabela dari Castilia.
Potret kemunduran Islam diperparah dengan adanya perang salib (The Crusode). Perang ini antara Pasukan Islam dengan Pasukan Salin dari Eropa. Perang ini selama 2 ½ abad dari tahuan 1060 M – 1270 M. Yang dikobarkan oleh Paus Urbanus II. Motifnya membebaskan Yerusalem dari kekuasaan Islam Bani Saljuk. Turki Usmani.

3.   Krisis Bidang Ilmu Pengetahuan
Kaum Nasrani Spanyol dan tentara Mongol sangat berperilaku bar-bar. Pusat-puat Ilmu pengetahuan berupa perpustakaan diporakporandakan dan dibakar sampai punah. Cordova dan Bagdad yang dulu menjadi pusat peradaban dan ilmu pengetahuan kini menjadi mati.
Masa kemunduran Islam seperti ini selama sampai akhir abad XVIII. Tetapi pada awal abad XIX terdapat usaha-usaha dari beberapa ulama Islam berpikir maju dengan tujuan membangun kembali kemuliaan Islam dan kejayaan Kaum Muslimin. Lalu mengkristal adanya gerakan pembaruan/permurnian Islam yang dengan lantang bersemboyan kembali kepada Al Quran dan Hadits Syarif.

C.    Latar Belakang Kebangkitan Dunia Islam
Benih pembaruan dalam dunia Islam sesungguhnya telah muncul di sekitar abad XIII M. Ketika itu dunia Islam tengah mengalami kemunduran dalam  berbagai bidang. Saat itu pula lahirlah Taqiyudin Ibnu Taimiyah dan menjadi seorang muslim yang sangat peduli terhadap nasib Umat Islam dengan mendapat dukungan dari murid beliau bernama Ibnu Qayyim Al Jauziyah (891 – 751 M).
Kedua tokoh tersebut berusaha memurnikan ajaran Islam (Tajdidu Fil Islam). Mereka ingin memurnikan Islam dari berbagai keyakinan, sikap dan perbuatan yang merusak sendi-sendi Islam dan ingin mengembalikan pemahaman agama Islam dan pengamalan Rasulullah SAW dan generasi Salaf.

D.     Kebangkitan Dunia Islam dan Tokoh-Tokohnya
1.     Kebangkitan Dunia Islam di Arab Saudi dan Tokoh-Tokohnya
Tokoh yang menyambut seruan Ibnu Taimiyah adalah Muhammad bin Abful Wahab, Jamaludin Al Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Mereka berjuang melalui 2 gerakan pembaruan Islam yang ada di Arab Saudi.

2.     Kebangkitan Dunia Islam di Mesir dan Tokoh-Tokohnya
Syaikh Hasan Al Bana mendirikan gerakan Islam yang dinamakan “Ikhwanul Muslimin” pada abad XX tahun 1928 M di Mesir. Lahir di Gharbiah Mesir tahun 1906. Ia hafal Al Quran pada umur 14 tahun. Pada umur 16 tahun menjadi mahasiswa Universitas Darul Ulum. Namun ia mati terbunuh secara misterius pada 12 Februari 1949.


Ciri gerakan ini adalah jauh dari pertentangan, pengaruh riya dan kesombongan. Perhatian kepada kaderisasi mengutamakan amaliyah, produktif dan serius pada dunia pemuda. Yang melahirkan banyak tokoh pemikir Islam, seperti Sayyid Qutub, Yusuf Qardawi, Said Hawwa, Muhammad Al Ghazali, Musthafa  Mansur dan Abdullah Azam.

3.     Kebangkitan Dunia Islam di Turki dan Tokoh-Tokohnya
Gelombang pembaruan Islam sampai pula ke Negara Turki. Tokoh-tokoh yang pembaruan di sama adalah Tewfik (1867 – 1915 M), Dr. Abdullah Jedwat (1869 – 1932 M), Mehmed Akif (1879 – 1936 M), Zia Gokalp (1875 – 1924) dan Musthafa Kemal Attaturk yang Ia lahir tahun 1881 di Selonika dan meniggal tahun 1983 M). Dasar-dasar pemikiran Musthafa Kemal Attaturk ada 3 hal yaitu Westernisme, Sekularisme dan Nasionalisme. 

4.     Kebangkitan Dunia Islam di India/Pakistan dan Tokoh-Tokohnya
Ada 5 tokoh, yaitu Syah Waliyullah, Sir Sayyid Ahmad Kahn, Sayyid Amir Ali, Muhammad Iqbal dan Muhammad Al Jinnah. 

E.      Muhammadiyah Periode Awal
Pada periode awal merupakan masa perintisan, pembentukan jiwa dan amal usaha serta organisasi. Muhammadiyah merupakan gerakan Islam di Indonesia yang berpaham modern. Adapun kondisi bangsa Indonesia pada periode awal Muhammadiyah dan usaha-usaha yang dilakukan K.H. Ahmad Dahlan sebagai berikut:
1.      Kondisi Sosial, Politik dan Ekonomi
Ada 5 gambaran keadaan bangsa Indonesia pada saat awal Muhammadiyah:
a.     Kehidupan keberagamaan memprihatinkan, dalam kepercayaan tercampur khurafat, bid’ah dan Taqlid.
b.     Pendidikan terbelakang, anak yang sekolah hanya anak bangsawan dan orang berpangkat.
c.     Anak-anak muda kurang mendapat perhatian.
d.     Perekonomian lemah, bangsa Indonesia menjadi bangsa yang terjajah.
e.     Kegiatan Nasranisasi sangat menonjol, dakwah sangat lemah, umat Islam menjadi umat kelas bawah.

2.      Usaha-Usaha K.H. Ahmad Dahlan
a.     Peningkatan kualitas keislaman bangsa Indonesia.
b.     Peningkatan pendidikan  dengan mendirikan macam-macam sekolah.
c.     Peningkatan martabat wanita.
d.     Persatuan umat Islam Indonesia dengan mengadakan silaturrahim dengan para pemimpin Islam.
e.     Membentuk organisasi Muhammadiyah.
f.        Mendirikan kepanduan Hizbul wathan.
g.     Menerbitkan majalah Suara  Muhammadiyah.
h.      Menggerakan tabligh Islam.
i.         Membantu fakir miskin dengan memelihara dan menyantuni.
Menganjurkan hidup sederhana, terutama dalam pesta perkawinan (walimatul ursy).